DKM Paramadina

Tuesday, October 03, 2006

Kebebasan Memilih adalah Anugerah Tuhan

Bobby Subianto, Mahasiswa Falsafah dan Agama, Fakultas Falsafah dan Peradaban, UniversitasParamadina, Jakarta.

Tuhan telah memberikan kita anugerah yang begitu besarnya, yaitu kebebasan memilih, yang tidak dimiliki makhluk Tuhan lainnya dalam hidup ini. Tuhan memberikan dua pilihan kepada manusia dalam menjalani hidup ini. Keduanya itu adalah jalan kebaikan dan jalan keburukan. Dalam hal ini, manusia diberi pilihan oleh Tuhan untuk menentukan hidup.

Maulana Jalaluddin Rumi, seorang sufi, mengatakan bahwa kebebasan memilih ini hanya dimiliki oleh manusia. Karena manusia yang mau mengemban amanat yang telah ditawarkan Tuhan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Menurut Jalaluddin Rumi, tidaklah mungkin Tuhan memberi perintah dan larangan kepada manusia, kalau manusia tidak memiliki kebebasan untuk memilih tindakan-tindakannya dalam menjalani hidup.

Maulana Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa hewan sekalipun mengerti kalau manusia itu memiliki kebebasan memilih. Ambillah contoh seekor kuda, kalau kuda tersebut kita cambuk melewati batas normal, ada kemungkinan kuda tersebut akan marah karena kesakitan. Menariknya, ketika kuda itu marah, kepada apa atau siapa ia menumpahkan kemarahannya? Secara akal sehat, kuda akan marah kepada yang menyakitinya, dan yang menyakiti itu adalah cemeti, yang digunakan manusia untuk mencambuknya. Tetapi, dalam kenyataannya, kuda tidak marah pada cemeti atau cambuk, tetapi ia justru marah kepada manusia. Itu semua bagi Jalaluddin Rumi menunjukkan bahwa seekor kuda pun tahu bahwa cambuk tidak bisa dipersalahkan karena ia tidak bisa memilih. Kalau pun ada yang ia anggap bersalah, maka tidak lain manusia. Karena manusialah yang mampu memilih untuk menyiksa atau memperlakukan kuda dengan baik. Ini menunjukkan betapa seekor kuda pun tahu bahwa manusia memiliki kebebasan memilih.

Dalam hal ini, pergunakanlah anugerah Tuhan yang begitu agung dengan memilih jalan kebaikan. Apa pun yang kita pilih kebaikan maupun keburukan sudah barang tentu konsekuensi-konsekuensi apa yang kita pilih, mau tidak mau, harus kita pikul.

Tuhan tidak melepaskan begitu saja, tetapi Tuhan memberikan buku petunjuk untuk memilih. Di dalam buku petunjuk itu, Tuhan memberikan gambaran kebaikan dan keburukan. Kalau manusia berbuat kebaikan, maka akan mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri dan orang lain serta alam sekitarnya. Kalau manusia memilih keburukan, ia akan mendapatkan ketidak-tenangan hidup, membuat orang lain tidak nyaman, dan membuat alam sekitarnya tidak bersahabat. Inilah hukum kehidupan (law of life) yang telah Tuhan tentukan sebagai akibat kebebasan memilih yang diberikan kepada manusia.

Setiap agama di muka bumi ini selalu menganjurkan manusia untuk berbuat kebaikan, minimal untuk dirinya sendiri. Di dalam agama Islam, sangat ditekankan untuk berbuat kebaikan. Membaca al-Qur’an, dapat ditemukan adanya seruan untuk beriman kepada Allah, setelah ayat tersebut pasti akan kita temukan ayat sambungannya yang berbunyi “wa ‘amilû as-shâlihât” (berbuat kebaikan). Salah satu contoh di dalam surat al-`Ashr.

Dalam surat al-Áshr ini diterangkan bahwa manusia selama hidupnya akan terus dirundung kenestapaan, kerugian, tidak tenang dalam menjalani hidup, gelisah, dan sebagainya. Menanggapi kemenderitaan itu, Tuhan menjanjikan kebaikan pada diri manusia, bila ia menghidupi imannya dengan menjalankan pelbagai kebajikan, baik bagi dirinya maupun kehidupan umat manusia.

Beriman saja tidak cukup, tetapi perlu pembuktian yang konkrit, yaitu dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun di luar dirinya, termasuk alam sekitar. Keimanan yang tidak ditopang dengan amal baik, seperti pohon yang tidak berbuah. Amal soleh adalah buah dari keimanan kita.
Beberapa hari lagi, bulan yang indah dan memesona akan menyapa. Ia disapa dengan sebuatan Ramadhan. Bulan Ramadhan memang diperuntukkan bagi hamba-hamba Tuhan untuk melatih diri (tarbiyyat-u an-nafs) selama sebulan penuh dalam berbagai hal. Mulai kedisiplinan, mencari makna hidup, melatih diri dalam berinfaq dan sedekah, membantu sesama, dan perbuatan-perbuatan baik lainnya.


Mari kita sama-sama renungkan wahai saudaraku, mari kita mulai sedikit demi sedikit untuk berbuat kebaikan, kita aktifkan semua indra kita untuk berbuat kebaikan. Penglihatan kita, tuntunlah ia kepada kebaikan, pendengaran kita, bimbinglah ia untuk berbuat baik, penciuman kita diarahkan dalam kebaikan, indra kita mulai detik ini tuntunlah ia dalam kemaslahatan. Seluruh anggota tubuh kita, arahkan ia dalam kebaikan-kebaikan, minimal berbuat baik kepada diri kita sendiri, setelah itu baru menjalar kepada sesama bahkan pada alam semesta ini.

Mulai saat ini, larutkan semua yang kita miliki di dunia ini dalam nuansa irama melodi kebaikan. Nikmatilah kebaikan demi kebaikan, rasakan sentuhan lembut kebaikan itu pada diri kita. Biarkan kebaikan itu menyusup masuk dalam relung jiwa kita, jangan halangi dia, jangan cegah dia, jangan marahi dia, jangan tolak dia. Pasrahkan diri ini menerima kebaikan biarkan kebaikan menyelimuti jiwa ini.
Ketika jiwa kita telah menyatu dalam irama kebaikan, jiwa yang diliputi kebaikan akan memancarkan cahaya yang begitu indah mempesona. Cahaya kebaikan dalam diri kita memberikan nuansa keindahan dalam menghiasi dunia ini. Dunia akan terasa indah diliputi oleh aroma wewangian kebaikan yang kita tebarkan.


Dunia terasa nyaman ketika kebaikan meliputi seluruh aktivitas kita di dunia ini.
Sambutlah kebaikan itu dengan sambutan yang hangat penuh mesra. Semailah kebaikan demi kebaikan, berikan peluang kepada anggota tubuh dan apa yang kita miliki untuk berbuat kebaikan. Mudah-mudahan kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat bisa bermanfaat untuk kita dan makhluk hidup di dunia.

Duka Lama Ahmadiyah dan Inkonsistensi Pemerintah RI

Abdul Halim

Deret aniaya yang dialami penganut Ahmadiyah tak kunjung usai. Belum reda derita psikologis yang mereka alami pasca teror (perusakan rumah dan masjid) penganut Ahmadiyah di Kendari, April lalu, perlakuan tak “manusiawi” kembali mereka tuai di kampung pengungsian di Mataram.

Sebagaimana diberitakan, penasihat Organisasi Ahmadiyah, Syamsir Ali mengatakan bahwa “suaka itu jalan terakhir kalau nasib kami tidak segera mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia.” Pernyataan ini ia ungkapkan selepas bertemu dengan Wakil Konsul Australia di Bali, Adelaide Worcester, kemarin (24/07) (Koran Tempo, 25 Juli 2006).

Apa yang terungkap di permukaan ini, mengindikasikan bahwa kebebasan beragama dalam nuansa keragaman tak menjadi perkamen dasar dalam rupa keberagamaan kita. Betapa tidak, fundamen rumah bangsa yang dirangkai sejak masa kemerdekaan, Bhineka Tunggal Ika, ternodai oleh aksi massa yang mengklaim kebenaran diri atau kelompoknya, dengan berperilaku anarkis terhadap komunitas lain.

Apa yang dirasakan oleh korban bencana di pelbagai daerah, yang datang beruntun, mulai banjir hingga persoalan sampah, senada dengan pengalaman traumatik yang dirasakan oleh penganut Ahmadiyah. “Skenario” alam yang menghadirkan bencana kemanusiaan melahirkan kekhawatiran dan ketakutan yang teramat dalam. Belum genap Aceh merehabilitasi kehidupannya, di ujung teritori lainnya, gempa dan tsunami kembali menghantam padang hidup warga di sekitar Pantai Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Jawa Barat, yang melumat ribuan nyawa (18/07).

Dari kedua fenomen di atas, yang terbersit adalah kemerdekaan, kebebasan, dan kemuliaannya sebagai manusia dinafikan. Ruang gerak untuk mengamalkan kebebasan diri dalam menjalankan keyakinan terbatasi oleh klaim kebenaran pihak-pihak tertentu. Demikian pula dengan korban bencana. Kebebasan menjalani hidup terpagari oleh ketiadaan informasi tentang kerentanan rumah tinggal, yang dapat memicu hilangnya nyawa manusia. Padahal, perlindungan hak untuk menjalankan keyakinan dan memeroleh informasi dijamin dalam UUD 1945. Melihat kezaliman ini, Pemerintah Indonesia lambat bereaksi.

Menanggapi aksi penganut Ahmadiyah, Maftuh Basyuni, Menteri Agama RI, mengungkapkan bahwa “Kok, ya ada negara yang mau menerima mereka” (Koran Tempo, 25 Juli 2006). Ungkapan ini mengandung dua makna. Pertama, sebagai negara yang berdaulat, pernyataan Menteri Agama RI adalah sesuatu yang patut dimaklumi, bila Pemerintah Indonesia merasa “diingkari”. Namun, bila dipahami lebih mendalam, ungkapan tersebut menjadi cermin kegagalan Pemerintah RI dalam memenuhi hak-hak dasar warga negaranya. Dampaknya, hubungan bilateral Indonesia-Australia berpotensi memburuk.

Sebagaimana diketahui, sejak 42 dari 43 pencari suaka (asylum seekers) memeroleh visa tinggal sementara (temporary visa) dari Pemerintah Australia, kualitas hubungan diplomatik Indonesia-Australia mengalami penurunan. Buntutnya, Jakarta menarik Dubes T. M. Hamzah Thayeb dari Canberra. Bila suaka politik yang diajukan oleh Jemaah Ahmadiyah Lombok melalui Konsulat Jenderal Australia di Denpasar, Bali, kembali dikabulkan, bukan mustahil akan melahirkan dampak buruk bagi upaya-upaya membangun kesepahaman dengan dunia internasional, khususnya Australia.

Maraknya aksi anarkis berbau agama di Indonesia, menggambarkan bahwa Pemerintah RI tanpa komitmen menjalankan amanah UUD 1945 Pasal 29. Bila hal ini berlangsung tanpa henti, Indonesia bisa digolongkan sebagai negara yang melakukan pelanggaran atas hak kebebasan beragama di mata internasional. Inilah preseden negatifnya. Mengapa demikian? Hak kebebasan beragama adalah hak asasi yang tak bisa dinilai: benar-salah, lurus-sesat, atau dengan aksiomatik hitam-putih lainnya. Dalam Declaration of Human Rights (Pasal 18), dinyatakan bahwa “setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, keinsyafan batin dan agama (kepercayaannya)”. Kebebasan inilah yang tak diperoleh jemaah Ahmadiyah Lombok, sehingga keamanan dan kenyamanan dalam menjalankan agama (kepercayaan) tak mereka tuai dalam kesehariannya.

Kemajemukan keberagamaan adalah kenyataan yang hidup di sekitar kita. Meski manifestasi lahiriah keberagamaan beraneka rupa, namun Kebenaran Universal adalah tunggal. Berdasar prinsip ini, pada level kemanusiaan, tak ada hak (apalagi kewajiban) untuk menghakimi pihak lain atas dasar apapun. Pengadilan Tuhan adalah media pembuktiannya. Lebih jauh, Cak Nur (1939-2005) menjelaskan bahwa “semua agama (kepercayaan) diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh para pengikut agama itu masing-masing, baik secara pribadi maupun secara kelompok” (2000: 184). Dalam hal ini, umat Islam telah meneladaninya. Piagam Madinah (Medina Document) semasa Rasulullah SAW, dan Perjanjian Aelia (Miitsaq Ailiya) semasa Khalifah Umar ibn al-Khaththab adalah fakta historis.

Terkait dengan kebebasan beragama, Mohamed Talbi, pemikir Tunisia, menyebut bahwa “al-Qur’an secara tegas menekankan kebebasan dalam beragama. Iman adalah komitmen individual. Iman adalah pemberian bebas, hidayah Tuhan. Inilah kebebasan hakiki manusia” (Charles Kurzman, 2001: 254-255).

Dorongan jemaah Ahmadiyah Lombok untuk mencari suaka politik tak bisa dianggap remeh. Secara politis, ia berdampak negatif terhadap hubungan bilateral Indonesia-Australia. Pun dalam kelanjutan kehidupan keagamaan di Indonesia. Untuk itu, melalui dialog, Pemerintah Indonesia harus melakukan langkah-langkah preventif bagi penanggulangan pelbagai dampak destruktif yang akan terjadi dari persoalan ini.

Harapan kita, meminjam ungkapan Bung Hatta, meski Indonesia didirikan atas asas kekeluargaan, tetapi warga negara masih memerlukan perlindungan atas hak-hak dasarnya. Jangan sampai timbul negara kekuasaan (machtsstaat: negara penindas). Sekali ini dan untuk selama-lamanya (once and for all).

Bersujud Di Hadapan-Mu

Memulai hari tanpa makna
Suasana terus begitu
Tidak ada tanda-tanda
Sesuatu yang kucari
Belum ku temukan
Apa sih sebenarnya?
Aku juga bingung...
Kemana sih sesuatu itu?
Dimana Dia?
Dari terbit fajar
Dan fajar sampai ke tempat yang telah ditentukan
Aku terus berjalan melewati angan-angan
Menjalani kehidupan,
Menyeberangi suasana hati,
Menuruti kadar keimanan yang pasang surut. mendaki puncak makna kehidupan.
Di dalam perjalan ku
Berjumpa dengan Sang kecemasan
Bersalaman dengan Sang ketakutan
Memeluk Sang cinta dan kerinduan
Aku juga merasakan
kesombongan, kecongkakan,
Iri dengki, dan sejenisnya.
Di dalam perjalanan itu
Aku sempat bermalam di pondok kebodohan
Memakan hidangan kesombongan
Meminum beberapa cangkir keangkuhan
Di lain hari....................
Aku juga kadang-kadang menikmati kesesatan
Orang beragama menganggap itu dosa
Di hari yang lain ............
Aku juga melahap beberapa buah kebaikan
Semuanya ku nikmati
Hampir seluruh perjalanan ini
Rasanya tidak ada yang ku dapati
Semuanya terasa hambar
Sebenarnya.................
Aku mencari sesuatu itu
Tapi aku ga tau
Apa sesuatu itu
Seperti apa Dia
Apakah dia seperti aku?
Atau seperti Dia ?
Aku sangat lelah
Mungkin putus asa
Ketika keputusasaaan itu menggerogoti
Aku melihat seseorang
Menikmati pertemuan
Sepertinya dia sedang bercengkerama
Aku bertanya kepada diriku
Siapa dia yang tak kelihatan itu?
Aku terus bertanya
Terjadi dialog dalam jiwa
Aku ingin mencoba
Seperti orang itu
Dalam kemesraan
Tanpa beban
Saling memberi dan menerima
Ku basuh mukaku
Bersuci untuk mencoba
Aku berusaha menemukan
Siapa di balik kenyataan ini
Aku menangis
Di dalam sujud ku
Ternyata kutemukan Dia
Yang selama ini ku cari
Ku limpahkan segala apa yang ada di hati ini
Hatiku kembali basah
Mengalir keseluruh tubuhku
Jiwaku terasa ringan
Aku sangat mengharap-Mu
Aku ingin berada disisi-Mu
Aku ingin mencintai-Mu
Senja bersahabat, 2006
(Anak Rantau)

Kerinduan di atas Kerinduan

Wahai Sang Kekasih
Diriku tak kuat menahan api kerinduan
Memanaskan rongga jiwa ini
Penyesalan di atas penyesalan
Tlah jauh berlari meninggalkan-Mu
Menjauhi-Mu
Melupakan-Mu
Wahai Kekasih ku
Aku ingin kembali
Aku ingin seperti dulu
Engkau pancarkan kemurnian cinta
Engkau berikan kasih sayang yang tulus
Engkau persembahkan segala yang aku pinta
Wahai Kekasih........
Aku ingin dekat dengan-Mu
Aku ingin menangis dipangkuan-Mu
Aku ingin berbagi cerita dengan-Mu
Aku ingin bercengkrama dengan-Mu
Aku ingin bermesraan dengan-Mu
Wahai Kekasih ku
Terimalah kerinduan hamba-Mu ini
Kerinduan di atas kerinduan
Dalam belaian kasih-sayang-Mu wahai Tuhan........

Subuh Membisu, 2006
Anak Rantau

Membangun Jiwa Sosial di Kalangan Mahasiswa

Dida Darul Ulum, Koordinator Dewan Keluarga Masjid (DKM) Universitas Paramadina, Jakarta.

Beberapa waktu lalu, Indonesia mengalami begitu banyak bencana alam yang menyebabkan kerusakan daerah-daerah tertentu yang sukar untuk direhabilitasi. Beberapa bencana alam tersebut telah memicu kita selaku bagian dari bangsa Indonesia agar senantiasa merasakan kepedihan yang melanda saudara-saudara kita yang menderita. Contohnya, tragedi Tsunami di Aceh yang terjadi pada tanggal 25 Desember 2004 bahkan yang terjadi beberapa bulan yang lalu dan baru-baru ini seperti gempa bumi di kota Yogyakarta, lumpur panas di Sidoarjo dan lain sebagainya.
Dengan demikian, kita mahasiswa Universitas Paramadina ikut terpanggil dalam merasakan bencana-bencana tersebut yang melanda saudara-saudara kita yang ada di seberang sana sehingga kita terpanggil pula untuk menyumbangkan sebagian milik kita kepada mereka. Namun, di samping itu, tidak layak bagi kita untuk melupakan masyarakat sekitar yang mungkin lebih membutuhkan pertolongan dari kita walaupun tidak bersifat materiil, melainkan pemikiran, motivasi dalam hidup, berbagi pengetahuan dan lain sebagainya.
Alangkah lebih baik, jika sekarang kita mulai berpikir mengenai apa yang bisa kita kontribusikan atau kita berikan kepada mereka dari disiplin-disiplin pengetahuan yang kita dapatkan di perkuliahan. Karena, pada hakikatnya, pengetahuan akan menjadi ilmu apabila diamalkan. Seperti yang disebutkan dalam pepatah orang-orang bijak:
Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah
Seorang tokoh paling populer dan berpengaruh di dunia, yaitu Nabi Muhammad SAW, mengajarkan agar kita senantiasa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Sesuai dengan sabda beliau:
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri (Al-Hadist)
Jadi, selain kita berduka cita atas beberapa kejadian bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air di seberang pulau sana, tapi kita tidak pernah melupakan masyarakat sekitar yang juga membutuhkan pertolongan kita.

Friday, August 18, 2006

zackyman.blogspot.com

Cak Nur Menyelamatkan Citra Islam
Proses pembaruan pemahaman keislaman di Indonesia pada era 1970 dan 1980-an tidak pernah lepas dari peran Cak Nur (sapaan akrab Prof. Dr. Nurcholish Madjid). Gagasan-gagasan segar Cak Nur tentang keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan, sampai kini masih menginspirasi dan mewarnai corak pemikiran beberapa generasi muda Indonesia. Hanya saja, seberapa jauh relevansi gagasan-gagasan tersebut untuk konteks kekinian masih harus terus diuji. Sebab, setiap gagasan tidak pernah terlepas dari konteks dan iklim yang dihadapi oleh seorang pemikir atau penggagas ide.
Jargon “Islam, Yes! Partai Islam, No!” yang pernah dilontarkan Cak Nur pada tahun 1971, misalnya, sangat terkait dengan problem keislaman dan afiliasi politik umat Islam ketika itu. Kritikan-kritikan beberapa tokoh Islam seperti Prof. Dr. H. M. Rasjidi atas ide-ide Cak Nur, juga tidak dapat dilepaskan dari prasangka-prasangka politik yang berkembang di masanya. Demikian intisari perbincangan Ulil Abshar-Abdalla dari JIL dengan Prof. Dr. Dawam Rahardjo, cendekiawan muslim yang juga teman seangkatan Cak Nur. Perbincangan berlangsung Kamis (17/3) lalu, bertepatan dengan simposium tiga hari (17-19/3) tentang pemikiran Cak Nur yang diselenggarakan Universitas Paramadina.